Wednesday, November 13, 2013

Hutang Merpati Airlines sudah mencapai 6.5 T

Nama : Fajar Rahmana

Kelas : 3EB18

NPM : 22211643

Mata Kuliah : Bahasa Indonesia 2

Tugas : Artikel Deduktif





[imagetag]




812562


[imagetag]




Maskapai PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) saat ini tengah menghadapi kesulitan keuangan. Para petinggi di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kabarnya merekomendasi Merpati ditutup. Maskapai pelat merah ini memang telah berulang-ulang memperoleh suntikan dana dalam bentuk penyertaan modal negara (PMN). Namun hingga saat ini kinerja keuangannya saat ini masih belum membaik.





Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan pun menegaskan kondisi keuangan PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) sudah sangat parah. Jalan satu-satunya hanya merestrukturisasi utang dengan mengkonversinya menjadi saham. Pasalnya berbagai solusi penyelematan Merpati sudah ditempuh. Termasuk mengganti direktur utama sebanyak 3 kali. Namun kondisi keuangan Merpati tidak banyak berubah. "Ini sulit karena utang banyak. Saya hari ini sampaikan ke Menkeu. Nggak ada jalan selamatkan Merpati kecuali restruktisaisi utang. Itu saya perjuangkan kalau minta PMN nggak," ucap Dahlan di Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (1/11/2013).





Kementerian BUMN dalam program restrukturisasi Merpati sudah memiliki kajian konversi utang menjadi saham, namun harus mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan selaku kuasa pemegang saham.

  "Kami tidak bisa memutuskan konversi saham, tanpa ada lampu hijau dari Menkeu," tegas Dahlan. Menurut catatan, utang Merpati saat ini mencapai sekitar Rp6 triliun dan diperkirakan terus membengkak sejalan dengan kewajiban-kewajiban yang masih harus dipenuhi. Kewajiban Merpati kepada sejumlah perusahaan meliputi PT Pertamina, PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, serta PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA). Selain itu perseroan juga memiliki kewajiban dalam bentuk penerusan pinjaman (subsidiary loan agreement/SLA) kepada pemerintah, dan utang kepada swasta dan kepada para lessor (perusahaan penyewaan pesawat).  Untuk itu tambah mantan Dirut PT PLN ini, Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis diminta untuk terus memantau dan menunggu respon lebih lanjut dari Kementerian Keuangan.



Catatan :

Kalimat Bold adalah Kalimat Utama





Daftar Pustaka :



http://finance.detik.com/read/2013/11/08/213928/2408075/1036/utang-merpati-rp-65-t-dahlan-kalau-cari-uang-tak-ada-yang-percaya



http://finance.detik.com/read/2013/11/01/164240/2401728/1036/petinggi-kementerian-bumn-usul-merpati-ditutup-saja



http://finance.detik.com/read/2013/11/01/173216/2401802/1036/merpati-sudah-kritis-kecuali-restrukturisasi-utang

http://www.antaranews.com/berita/403174/dahlan-temui-chatib-minta-persetujuan-restrukturisasi-merpati



No comments: