Wednesday, October 16, 2013

Film-Film Penerbangan Luar Angkasa Paling Asyik

Film karya Alfonso Cuaron itu layak disebut tontonan paling indah tahun ini. Kisahnya tentang dua astronot (diperankan Sandra Bullock dan George Clooney) yang terombang-ambing melayang di udara usai pesawat ulang alik mereka diterjang pecahan satelit. SPOILER ALERT! Hanya satu di antara mereka yang selamat sampai kembali ke Bumi.

Menyambut Gravity yang tengah tayang di bioskop, ini saat yang pas untuk melihat kembali film-film paling asyik tentang para astronot alias mereka yang punya nasib lebih beruntung, bisa melihat Bumi dari luar angkasa.

Tunggu, beruntung? Well, seperti ditunjukkan Gravity menjadi astronot bukan selalu hal paling menguntungkan. Film-film yang saya sebut di sini memperlihatkan berbagai nasib para astronot--entah dari kisah nyata atau rekaan.

Mereka, para astronot, memang tak selalu bernasib mujur. Tapi yang jelas, mereka telah menikmati pemandangan luar biasa dengan mata kepala mereka sendiri.

Dan, tentu saja, film-film tentang mereka yang saya sebut di sini adalah yang paling asyik.

7. Apollo 13 (Sutr. Ron Howard, 1996)

[imagetag]



"Houston, we have a problem." Anda tentu masih terngiang kalimat itu. Jika ingin drama, serahkan pada ahlinya: Ron Howard. Dengan ketelitian dan pencapaian teknis yang sangat patut dikagumi, Howard merekonstruksi sekaligus mendramatisasi misi Apollo 13 ke Bulan yang berujung insiden pada pesawat ulang-alik. Di luar angkasa, tank oksigen meledak. Padahal, oksigen berperan penting dalam menentukan kelancaran misi. Akibat persediaan oksigen menipis lebih cepat, daya tahan pesawat merosot. Efek paling parah menimpa para kru (diperankan Tom Hanks, Kevin Bacon, dan Bill Paxton). Bila keadaan darurat ini tidak lekas ditanggulangi, mereka akan mati keracunan atau kedinginan. Jutaan pasang mata kembali menaruh perhatian pada nasib awak pesawat yang sebelumnya tak mereka pedulikan karena dianggap membosankan. Petinggi NASA kalang kabut. Keluarga astronot dan seluruh dunia cemas. Pun kita yang nonton. Ketika semuanya berakhir bahagia khas Hollywood, kita ikut bertempik sorak.

6. Armageddon (Sutr. Michael Bay, 1998)

[imagetag]



Saya ingat menonton film ini, Armageddon ketika masih SMA di bioskop bareng teman sekelas. Dulu sih saya merasa ini salah satu film paling keren yang saya pernah tonton. Duo Jerry Bruckheimer (produser) dan Michael Bay (sutradara) berhasil mengaduk-aduk emosi penonton yang masih remaja macam saya waktu itu. Heroisme, patriotisme, serta hubungan ayah dan anak digulirkan penuh drama dan sentimentil khas film-film Bruckheimer dan Bay, lengkap dengan gerakan kamera memutar dan slow motion plus ledakan-ledakan dahsyat. Ceritanya sebetulnya norak dan cenderung tak masuk akal: alih-alih mengirim astronot ke angkasa untuk menghalau komet yang mengarah ke Bumi, NASA malah mengirim para pengebor minyak. Ya, niatnya komet hendak dibor dan diledakkan di angkasa sebelum jatuh ke Bumi. Dengan suguhan khas Bruckheimer-Bay ditambah menu Bruce Willis, Ben Affleck, dan Liv Tyler, Armageddon tentu saja tetap jadi film yang mengasyikkan. Dan, ah, bagi generasi 1990-an dulu, siapa yang tak terbuai dua soundtrack-nya dulu "Leaving on a Jet Plane" dari Chantal Kreviazuk dan "I Don't Want to Miss a Thing" dari Aerosmith.

5. In the Shadow of the Moon (Sutr. David Sington, 2007)

[imagetag]



Suatu ketika Presiden John F. Kennedy berpidato di awal 1960-an. Ia bertekad sebelum dekade 1960-an berakhir, Amerika akan menerbangkan manusia ke Bulan dan pulang dengan selamat. Tekad itu tercapai. Pada 20 Juli 1969, orang Amerika jadi manusia pertama yang menjejakkan kakinya di Bulan. "Kita selalu mengira perjalanan pesawat ulang alik Apollo lebih merupakan sebuah pencapaian ketimbang cobaan," tulis Roger Ebert saat mengawali ulasannya atas film ini. Ini film dokumenter tentang awak Apollo, mereka yang pernah ke Bulan. Enam dari tujuh misi Apollo berhasil ke Bulan. Hanya satu, misi Apollo 13 yang gagal. Para mantan astronot yang sudah uzur bercerita tentang pengalaman mereka, sambil mengenang mereka yang tewas demi misi ini. Dilengkapi rekaman film dari NASA yang tak pernah ditampilkan sebelumnya, keberhasilan misi-misi Apollo jelaslah bukan sekadar prestasi, tapi perjalanan panjang, penuh liku dan cobaan. Sebuah lompatan besar umat manusia yang dibangun atas jerih payah dan kerja keras.

4. Moon (Sutr. Duncan Jones, 2009)

[imagetag]



Moon dibuat belum lama. Tapi Duncan Jones membuat film ini dengan tradisi pada film-film fiksi ilmiah minimalis era 1970-an semacam 2001: Space Odyssey dan Alien. Ia berhasil. Moon tak berpretensi membuat film fiksi ilmiah penuh efek khusus dahsyat. Yang ditelisik adalah persoalan psikologis seorang astronot. Alkisah, sang astronot (Sam Rockwell) yang sudah tiga tahun tinggal di Bulan, dan tinggal menunggu 2 minggu unuk kembali bertemu iatri dan anaknya yang masih bayi, mendapati ada orang lain persis dirinya (juga Sam Rockwell). Siapa persisnya orang itu? Halusinasinya? Atau itu klonnya? Jika memang mereka semua klon, kenyataan apa yang ditemukan sang astronot? Moonadalah film fiksi ilmiah indie yang keren. Tanpa efek khusus dahsyat, Moon sebuah tontonan yang sangat mengasyikkan.

3. Gravity (Sutr. Alfonso Cuaron, 2013)

[imagetag]



Ya, Gravity yang masih tayang di bioskop selayaknya masuk deretan film tentang astronot palng asyik, menyalip film-film lain bertema sejenis yang lebih dulu hadir. Kisahnya mungkin sederhana dan bisa diceritakan dalam satu kalimat: saat memperbaiki satelit yang rusak, astronot diterjang serpihan pecahan satelit dan dua di antaranya (diperankan George Clooney dan Sandra Bullock) terombang-ambing di angkasa. Gravity tak hendak bercanggih ria mengumandangkan persoalan filsafat besar, soal hakimat manusia dan kosmos, misalnya. Gravity hanyalah film tentang mencoba bertahan hidup. Tapi Alfonso Cuaron telah menyuguhkan tontonan yang real, memanjakan mata sekaligus membuat penontonnya dicekam kekuatiran seperti yang dirasakan astronot ketika kian terputus dari Bumi.

2. The Right Stuff (Sutr. Philip Kaufman, 1983)

[imagetag]



Philip Kaufman mengadaptasi kisah nyata kehidupan para astronot pertama AS, disebut Astronot Mercury, dengan sempurna dalam The Right Stuff (1983). Filmnya masuk hitungan film epik. Bagaimana tidak, dengan amat berhasil Kaufman mencampur aduk kenyataan sejarah, petualangan, drama, sekaligus komedi yang mengundang senyum. Walau filmnya dibuat panjang (3 jam) dijamin Anda takkan merasa bosan menontonnya. Malah, begitu film berakhir, Anda ingin lagi menontonnya. Kisah yang diangkat dari buku karangan Tom Wolfe ini dimulai di sebuah pangkalan udara milik Angkatan Udara AS. Pilot-pilot di sana terobsesi buat memecahkan rekor terbang melebihi kecepatan suara dengan pesawat jet. Sang jagoan di tempat itu, Chuck Yeager (Sam Shepard). Ia diperlakukan bak pahlawan. Jauh dari tempat itu, pemerintah AS tengah berlomba buat mengorbitkan manusia keluar angkasa. Beberapa orang terpilih jadi astoronot pertama AS--termasuk seorang pilot dari pangkalan udara tempat Yeager bertugas. Yeager mencibir astronot-astronot itu. Tapi publik AS menganggap mereka pahlawan. Yeager cuma jadi pahlawan kesepian.

1. 2001: Space Odyssey (Sutr. Stanley Kubrick, 1968)

812562


[imagetag]



Film ini tak hanya film astronot paling asyik, tapi rasanya juga film fiksi ilmiah terbaik yang pernah dibuat. Ada begitu banyak hal yang bisa dibincangkan dari maha-karya Stanley Kubrick ini. Tapi, cobalah bayangkan dahulu apa jadinya bila bagian awal film saat kera-kera yang jadi nenek moyang manusia dipotong dan bagian akhir saat astronot masuk lubang cacing serta bertemu Bayi Bintang juga absen. Maka, film ini tinggal menyisakan petualangan astronot dalam sebuah misi rahasia ke Jupiter dan harus berurusan dengan teror dari komputer cerdas HAL 9000 yang memberontak dan membunuh para awak. Sebagai film fiksi ilmiah tanpa dua bagian itu, filmnya akan tetap asyik ditonton. Tapi tentu bobotnya akan turun jauh. Sebab, 2001 sejatinya adalah film tentang hakikat kita di alam semesta yang maha luas ini. Di ujung film, misalnya, kita menemukan sang astronot sendirian dalam ruang-waktu yang tak lagi beracuan. Kita melihatnya menua dalam waktu yang berbalik ke sebuah ruang abad lampau, tetapi dalam waktu yang kenyataannya tak pernah kembali. Sang astronot menua dalam waktu, namun yang dalam ruang mewujud menjadi janin. Apa yang sesungguhnya hendak dikatakan Kubrick? Ketika menonton film ini tahun 1968, mendiang kritikus film Roger Ebert ingat ada penonton bertanya usai nonon, "Will someone tell me what the hell this is about?" Kubrick tak hendak memberi film yang mudah dicerna dalam sekali nonton. Seperti kosmos yang maha luas ada begitu banyak hal bisa dibincangkan dari film ini.

No comments: