Friday, October 11, 2013

Fakta Dibalik “Shutdown” Amerika

812562


[imagetag]



BANYAK media, dan tentu saja Partai Demokrat Amerika, tidak adil terhadap Kongres Partai Republik ketika menggambarkan keputusan mereka untuk menutup pemerintah sebagai suatu hal "keterlaluan," "gila", atau bahkan "terorisme." Tidak diragukan lagi, ini merupakan ukuran yang luar biasa, tetapi langkah-langkah luar biasa terkadang steril dan terjamin.



Coba bayangkan jika sekarang ini adalah tahun 1968, ketika Amerika Serikat mengirim lebih dari 500.000 tentara ke Vietnam dan membom negara itu setiap hari, menewaskan ribuan orang setiap pekan. Berapa banyak orang akan melihatnya sebagai suatu hal "keterlaluan, gila, dan terorisme" jika Kongres lebih memilih untuk menutup pemerintah sampai Presiden Lyndon B. Johnson setuju mengakhiri perang? 



Kenyataannya, rakyat Amerika diam-diam dan sedikit terang-terangan frustrasi dengan shutdown pemerintahnnya sendiri. Dan rasa sakit yang nyata dialami oleh para pekerja pemerintah, seperti yang dibenarkan jika bisa mengakhiri pembantaian di Vietnam.



Perbedaan antara mematikan pemerintah untuk mengakhiri perang dengan apa yang dilakukan oleh Partai Republik lakukan sekarang adalah bahwa Partai Republik tidak memiliki alasan yang besar. Mereka mencegah rakyat mendapatkan perawatan kesehatan. Ini adalah bencana yang diharapkan kaum Republik ketika menutup pemerintahan.



Ada banyak alasan untuk mengeluhkan aspek Affordable Care Act (ACA), juga dikenal sebagai Obamacare. Rakyat tidak ada punya pilihan lain, sehingga tidak punya opsi selain perawatan melalui asuransi swasta. Kontrol biaya yang terbatas, yang berarti bahwa dokter, perusahaan obat dan perusahaan medis kemungkinan akan terus menyengat pasien dengan harga biaya kesehatan yang gila-gilaan.



Tapi ini bukan masalah yang merepotkan Partai Republik . Kurangnya kontrol biaya yang memadai dan masalah lain seperti itu adalah item yang bisa diperbaiki setelah program berjalan. Masalah-masalah ini tidak akan membenarkan shutdown pemerintah.



Alasan Partai Republik menghentikan Obamacare sederhana : Mereka takut bahwa orang akan mendapatkannya dan menyukainya. Dan itu—jika terlanjur—akan menghancurkan pesan politik partai mereka selama empat tahun terakhir ini. Sementara Partai Republik telah menyerang semua yang telah dilakukan oleh Barack Obama.



Selama Obamacare berjalan, hukum berada di atas kertas, dan itu bukan program yang benar-benar memberikan rakyat terjamin dengan asuransi kesehatannya. Partai Republik bisa membuat segala macam cerita horor. Mereka bisa memberitahu orang-orang bahwa birokrat pemerintah berada di kantor dokter dan dengan sendirinya mengabarkan bahwa kematian akan membunuh orang tua dan kakek-nenek mereka.



Kebanyakan orang tidak memiliki waktu untuk menekuni hukum, sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan langsung tentang ACA. Dan pandangan objektivitas media, berarti mereka menyampaikan pernyataan Republik tentang Obamacare tanpa komentar, terlepas dari betapa absurdnya pernyataan tersebut, mungkin. Akibatnya , puluhan juta orang memegang banyak keyakinan palsu tentang Obamacare.



Menurut polling Kaiser Health Tracking di bulan September silam, hanya satu dari delapan orang yang tidak diasuransikan dan mereka menyadari bahwa mereka bisa mulai mendaftar untuk asuransi pada awal Oktober. Jajak pendapat ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat soal hukum tidak meningkat sejak 2010, dan beberapa mispersepsi terus bertahan.



Sampai saat ini, Partai Republik bisa lolos dengan berteriak-teriak soalkengerian Obamacare. Tapi begitu orang mulai mendapatkan pelayanan kesehatan melalui program itu, atau melihat keluarga dan teman-teman mereka mendapatkan pelayanan kesehatan melalui program ini, mereka akan tahu apa ACA sebenarnya. Dan pada saat itu, Partai Republik mungkin saja juga akan berteriak tentang kejahatan-kejahatan Medicare.



Memahami apa yang dipertaruhkan Partai Republik adalah mengapa mereka bersedia mematikan pemerintah atau bahkan me-reset utang pemerintah. America shutdown bisa jadi hanya soal ego siapa yang lebih berkuasa antara Republik ataukah Demokrat. [sa/isp/Aljazeera]





No comments: