Sunday, September 1, 2013

Sekilas Pandang Melihat Fenomena Film - Film Berunsur Blasphemy

768843


[imagetag]

Tahun 2008 lalu Ummat Islam gempar dengan beredarnya film pendek berjudul Fitna yang dibuat oleh anggota parlemen Belanda Greet Wielder. Film ini menuai badai kecaman dan kritik keras dikarenakan isinya yang provokatif dan penuh dengan tendensi kebencian terhadap Islam, Kini "jeda" empat tahun kemudian muncul lagi film dengan judul Innocence of Muslim dengan muatan yang yang tak jauh berbeda.

Pertanyaan kemudian muncul, kenapa film film seperti ini muncul silih berganti tanpa peduli akan efek berkelanjutan yang mungkin akan ditimbulkan darinya. Tentu ada sejuta alasan dibalik kasus kasus blasphemy seperti ini, entah itu motif politik, kebencian, mencari sensasi, dan puluhan lainnya baik dari yang paling logis sampai yang paling absurd. Penulis sendiri berpendapat bahwa kasus kasus yang sedemikian ini secara keseluruhan memiliki akar yang sama yaitu tentang bagaiman pola pandang (worldview) Barat memandang konsep "sakral".

Barat yang sekarang menganut pola pandang (worldview) postmodernism telah begitu terbiasa untuk melakukan hal hal diluar "kewajaran" dikarenakan nilai dari kewajaran itu sangat relative dalam pola pandang mereka, jika menurut anda pergi belanja ke Walmart (swalayan retail dengan jaringan terbesar di USA) dengan hanya memakai bikini adalah wajar, maka sekali kali orang lain tidak boleh barang sedikitpun "menjudge" anda tidak wajar. Jargonnya memikat; Apa yang menurut anda benar, belum tentu benar untuk orang lain.

Dalam kasus blasphemy , sebelum film yang mencederai Ummat Islam seperti Fitna dan Innocence of Muslim itu muncul, Yesus sebagai tokoh sentral dalam agama Kristen sudah lebih dulu dijadikan olok olok murahan yang sudah tidak terhitung lagi banyaknya dan lewat media apa saja olok olok tersebut "disalurkan". Lucunya mereka masih menggunakan Injil untuk mengangkat sumpah bagi kepala Negara masing masing.

Nah, konsep pola pandang (worldview) postmo yang dekonstruktif inilah yang sesungguhnya harus menjadi sasaran tembak utama Ummat Islam dalam melancarkan "serangan serangannya", mengapa?, Karena walau duta USA untuk Libya tewas (anggaplah) dikarenakan efek dari film Innocence of Muslim, ia tidaklah lebih dari sekedar collateral damage belaka yang kepergiannya takkan di sesali ataupun diratapi.

Innocence of Muslim ini juga punya kejanggalan tersendiri, film ini menjadi hit karena ramai dibicarakan pada saat perayaan peristiwa 9/11, padahal film ini sendiri sudah ada jauh sebelum September. Penulis berpendapat bahwa munculnya film ini tidak lebih dari upaya provokasi murahan yang mencoba untuk memancing emosi Ummat yang kemudian akan dipakai untuk merugikan kita sendiri, dapat dilihat dari berita tentang tewasnya dubes AS di Libya lebih menonjol beritanya daripada berita tentang Innocence of Muslim yang menjadi dasar penyerangan tersebut.

What is the most resilient parasite? Bacteria? A virus? An intestinal worm? An idea. Resilient... highly contagious. Once an idea has taken hold of the brain it"s almost impossible to eradicate. An idea that is fully formed fully understood that sticks; right in there somewhere. -Cobb, Inception

Peradaban Barat, bukanlah sebuah sosok, tapi sebuah wujud dari manifestasi ide, konsep dan pola pandang, jika kita memerangi sebuah sosok yang memiliki ide, konsep, ataupun pola pandang (worldview) yang kuat, tidak peduli berapa kali kita bunuh, sosok penggantinya akan muncul dengan cepat bahkan berkembang menjadi lebih banyak.

Dalam perjuangan kita menghadapi peradaban barat face to face kita memiliki kelemahan mendasar yaitu cenderung memilih aksi praktis daripada aksi berkesinambungan. Ini dapat mudah terlihat dari emosi kita yang sangat cepat tersulut dikarenakan hasrat "ingin praktis" atau "nafsu instan" untuk melihat hasil segera itu lebih dominan, padahal tidak ada gerakan yang bangkit dan bertahan tanpa dibangun oleh konsep berkesinambungan yang mana dapat diraih melalui tumbuh kembangnya khazanah keilmuan. Wallahu a"lam

Sumber

635621

No comments: