Monday, September 30, 2013

AS Bikin Rakyat Iran Terpecah Belah

812562


[imagetag]



Melunaknya sikap Iran terhadap Amerika Serikat (AS) sepulangnya Presiden Hassan Rouhani dari pertemuan PBB di New York, beberapa hari lalu, membuat rakyat Iran terpecah belah.



Perbincangan bersejarah untuk pertama kalinya selama 30 tahun antara Presiden Iran Hassan Rouhani dengan Presiden AS Barack Obama melalui telepon juga memunculkan kelompok penentang dan pendukung Rouhani di Iran. Kepulangan Rouhani ke Teheran, Sabtu (28/9/2013), disambut teriakkan "matilah Amerika" oleh pengunjuk rasa.



Kantor berita AFP melaporkan, sekitar 200 hingga 300 orang berkumpul di luar Bandara Teheran untuk menyampaikan terima kasih kepada Rouhani atas upaya perdamaian dengan AS yang ia galang. Namun, massa dalam jumlah yang lebih sedikit menggelar aksi tandingan. Mereka menerikkan "matilah Amerika" dan "matilah Israel".



Harian New York Times menggambarkan suasana unjuk rasa itu cenderungan keras. Saat rombongan presiden Rouhani melintas, massa penentang Rouhani melempari rombongan dengan telur dan sepatu. Di Timur Tengah, melempar seseorang dengan sepatu merupakan simbol penghinaan. Namun demikian, Rouhani sempat melambaikan tangan ke arah pengunjuk rasa.



Sebelumnya, saat menghadiri pertemuan di PBB, Rouhani membuat gebrakan bersejarah dalam hubungan diplomatik dengan AS. Setelah selama 30 tahun bermusuhan, Iran mulai melunak kepada AS dalam hal program nuklir.



Rouhani berharap perundingan Iran dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman berlangsung cepat dan menghasilkan keputusan damai. Lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB itu adalah AS, China, Rusia, Inggris, dan Perancis. Mereka bertemu dalam forum 5P+1.



Rouhani juga bahkan sempat berbicara langsung dengan Obama melalui telepon. Keduanya ternyata tidak bertemu muka dan tidak duduk dalam satu meja. Perundingan soal Iran diwakili para menteri luar negeri.



Selama kepemimpinan Mahmoud Ahmadinejad, Iran bersikap keras terhadap AS. Sikap ini membuahkan sanksi ekonomi dan militer terhadap Iran oleh PBB dengan negara sekutu AS. (*/BBC/inilah)

No comments: