Friday, June 14, 2013

Ini Alasan Telkom Lepas Telkomvision ke CT

812562


[imagetag]

 PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) melepas 80 persen saham televisi kabel mereka, Telkomvision, ke pengusaha media Chairul Tanjung. Apa alasan Telkom?

"Kami memang sudah melakukan conditional sales purchase agreement (CSPA) dengan Trans Corp. Kami memang mencari mitra yang memang di bidangnya," kata Direktur Utama Telkom Arief Yahya, Jumat (14/6/2013). Tujuannya, sebut dia, untuk pengembangan Telkomvision ke depan, di tengah persaingan bisnis televisi kabel yang semakin sengit.

Arief mengatakan, dengan melepas 80 persen saham Telkomvision ke Trans Media—salah satu divisi usaha Trans Corp—Telkom akan fokus sebagai penyedia infrastrukturnya. Sementara Trans Media akan bertindak sebagai penyedia konten.

Soal kepemilikan saham yang tinggal 20 persen setelah pelepasan ini, Arief mengatakan, selama ini Telkom memang tak menggantungkan laba dari bisnis televisi kabel tersebut. Menurut dia, mayoritas laba PT Telkom masih berasal dari bisnis seluler melalui PT Telekomunikasi Seluler, yang dikenal sebagai operator Telkomsel.

"Soal merugi, ya tentu kami tidak senaif itu. Soal keuntungan kami tidak akan tergerus. Soalnya core business kita kan di seluler. Untuk media (Telkomvision) keuntungannya masih relatif kecil ke induk," tambah Arief. Namun, dia menolak menyebutkan nilai pelepasan 80 persen saham Telkomvision ini.

Sejumlah sumber menyebutkan, nilai akuisisi 80 persen Telkomvision sekitar 100 juta dollar AS. Didirikan pada 1997 dan mulai beroperasi pada 1999, saham televisi kabel ini dimiliki oleh Telkom, PT Telkomindo Primabhakti (Megacell), PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), dan PT Datakom Asia (Datakom Asia).

Namun, pada 2003, Telkom menjadi pemegang saham mayoritas dengan porsi saham 98,75 persen, dengan saham selebihnya dimiliki Datakom. Hingga saat ini, pelanggan Telkomvision disebut melampaui 2 juta pelanggan. Masuknya Trans Corp ke bisnis televisi berbayar akan semakin meramaikan bisnis ini yang belakangan cukup marak di Indonesia.

No comments: